Mengenai Saya

Translate Lewat mBah Google

::[WELCOME TO THE SANCTUARY]:: Here u can read my mind because here, i write what i thinking. Enjoy It...!!!

Daftar isi Blog

Senin, 13 Agustus 2012


Summer Festival
                “Michi-san…! Choto  mate…!” teriak seorang wanita dari keramaian. “Saori-chan…! Iku hayaku, misete ikouyo…!” kata seorang pria yang mengajak melihat kembang api di vestival musim panas.
sepasang muda-mudi yang baru saja jadian. Si cowok  benar-benar bersemangat karna baru kali ini ia bias menyaksikan kembang api musim panas bersama seorang yang sangat di cintainya.
duar…shiung..dhuar… gelegar kembang api mnghujani Tokyo square dan menara Tokyo yang merah.
                “sayang…kamu ada permintaan nggak?” Tanya Saori.
“ada…” jawab Michi
“apa ?” pikir Saori pasti sesuatu yang mempererat hubungan mereka, sambil senyum malu-malu
“makan Okonomiyaki yang banyak di restoran pamanku…!!!! Yeeee…kamu juga boleh ikut kok say” katanya bersemangat
dhuang!!! Pikirnya apa, ternyata hal tidak berguna lagi. Walaupun begitu. Mereka pasangan yang serasi dan saling mengisi.
                Sebelum tiba di rumah paman Michiru. Mereka bertemu kakek tua yang terlihat sangat rapuh dan mencoba melihat kembang api di kerumunan orang banyak. Mereka lantas membantunya menuntun hingga ke dekat pos satpam. Namun, saat tiba di sana hanya mengatakan satu hal sebelum pingsan " Oukuni, aku merindukanmu”.
                “bagaimana kakek itu dok?” tanya Michi dan Saori khawatir. “sangat di sayangkan” ,”kakek itu meninggal dok?” tanya mereka kaget ,”ah, bukan..” ,”lalu apa dok ?” ,”pihak rumah sakit tidak berhasil menghubungi keluarganya….nanti yang bayar siapa dong?” katanya yang sontak membuat dahi mereka berdua berkerut dan tempang mereka berdua menjadi galak.
“ah…tidak masalah, itu bisa kita urus. ibeliau saat ini sedang beristirahat. Mungkin karena kelelahan dan jantungnya sudah melemah”. Lalu mereka berdua pulang naik mobil Michiru namun dalam perjalanan tiba-tiba ada wanita menyeberang. Ci.i.i.i.ittt…!!!! gubrak!
“sayang…! Kita nabrak apa barusan?!” tanya Saori ketakutan
“paling ayam orang lepas…” katanya sambil mereka keluar mobil
“ih.h!!!” sambil memukul kepala Michiru “masak ayam gedhe, pake daster, rambutnya panjang!!! Mending kamu aja yang ketabrak biar waras!”
lalu mereka menengok kebawah mobil namun tidak ada apa-apa. Mereka menatap satu sama lain sambil bergegas membandul mobilnya ke tempat yang lebih ramai.
                Setiba di rumah, saori langsung membaringkan tubuh langsingnya di bathtube. Sedang meletakan rasa lelahnya dalam air. Tiba-tiba ada suara orang menutup pintu yang kira-kira pintu kamar Saori. “paling juga setan” katanya “udah pernah tuh…di film paranormall activity”teriaknya. Namun benar, bahwa itu memmang hantu. Dan hantunya merasa sangat dongkol, ternyata caranya sudah kuno. Lalu tiba-tiba lampu mati sendiri, dan beberapa perabot dapur berjatuhan sendiri. Pikir Saori ‘hantu ini serius’kemudian ia lekas memakai baju dan cepat-cepat menghubungi Michiru.
“sayang! Hantunya ngikutin aku terus sampe rumah. Ni aku sekarang di gangguin” sambil ia mendekam di kamar, ketakutan.
“udaaah, kamu damai aja deh sama hantunya yang. Bilangin ya. Jangan iri karna kamu cantik…aku mau tidur, udah malem nih”
jawaban seperti itulah yang ternyata sesuai dugaan Saori. Saori makin ketakutan. Ia pernah menyaksikannya di paranormal activity. Jadi ia putuskan untuk keluar rumah dan pergi ke rumah Michiru. Saori berusaha sekuat-kuatnya membangunkan Michiru hingga akhirnya bangun.
dan Saori menceritakan semuanya. Lalu mereka putuskan untuk pergi ke pendeta setempat untuk di terawang, apa yang terjadi sebenarnya.
                “heem…sepertinya ada yang ingin hidup kembali” kata pendeta tersebut. “hantunya apa pak, cewek apa cowok, maunya apa, ?” tanya Saori ketakutan. “hantunya wanita, ingin tubuh nona ini” sontak membuat mereka berdua kaget ,”bilang pak, ini cewek gwe. Enak aja! Suruh hantunya nunjukin diri pak! Entar saya ajak kenalan” lalu berlangsunglah pukulan dan bentakan dari Saori.
“yaudah pak, makasih” sambil menyodorkan uang.
                Esoknya mereka menjenguk kakek tadi, dan mereka bertemu dengan seorang perempuan. “terimakasih atas pertolongan kalian. Maafkan kakek, beliau memang selalu begitu tiap tahunnya”
“maksudmu tiapa tahun?” tanya saori
“aku pengawas panti jompo tempatnya di tampung. Manurut cerita beliau tidak punya keluarga. Selalu pergi ke festival musimpanas tiap tahun. Dan setelah sampai, ia seperti berbicara sendiri.”
“kok aneh sih, berbicara sendiri ?”
“dari yang aku dengar, saat ia muda. Ia kehilangan kekasihnya saat pesta kembang api”
belum selesai mereka bicara, suster datang dan jam besuk pun usai.
                Dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba Saori menangis sendiri, berteriak histeris dan menjadi tak terkendalikan. Michiru menjadi bingung. “Saori!!! Kamu kenapa?! Sadar Saori!!!”
lalu Saori berlari dan seolah-olah melayang menuruni bukit. Dan menuju sebuah rumah tua. Begitu Michiru mengikuti masuk ke rumah besar tersebut, hawanya hanya kesedihan, ratapan dan benar-benar menyesakan dada. “heh setan ! lepasin tubuh pacarku!” teriak Michiru ,”awas kalo sampe Saori kenapa-napa! Aku bersumpah akan mengejarmu bahkan sampai ke neraka!”. Mendengar itu hantu yang terus melayang membawa Saori tadi berhenti sejenak dan berpaling ke Michiru. “aku tidak akan apa-apakan dia. Hanya kau ikutlah denganku” bisiknya menyentak telinga.
                Dan mereka tiba di taman belakang. “ini teras sakura” bisiknya memekak telinga.
kemudian hantu itu menggunakan tubuh Saori untuk media. Dan tiba-tiba dari melayang, terjatuh terduduk di teras tersebut, tersendu, dan aura penuh duka tadi seakan-akan berkumpul pada dirinya.
“maaf ya anak muda. Aku pinjam tubuh ini karena aku rindu pada Kotaro” katanya dengan suara Saori
“kotaro siapa? Kenapa kami ?”
“saat aku masih hidup, aku jatuh cinta sekali dengan Kotaro, cinta kami seperti tak terpisahkan, walaupun ia hanya seorang petani. Namun ayahku tidak terima, dan cepat-cepat menikahkanku dengan Tuan Hidemitsu, si tua tak tahu malu itu!. Sehari sebelumnya. Aku dan Kotaro pergi ke festival musim panas dan menonton kembang api bersama. Kami bermaksud menghabiskan malam kami dengan bersenang senang”“lalu, apa yang terjadi” tanya Michiru.

“belum selesai kembang apinya, orang-orang ayahku sudah menangkap kami, memukuli Kotaro hingga berdarah. Dan memingitku untuk tuan Hidemitsu. Esoknya saat pernikahan kami berlangsungg. Kotaro datang membawa pedang dan bermaksud membunuh Hidemitsu. Mereka bertarung, namun orang-orang ayahku mengeroyoknya dan menyanderanya ‘inikah lelaki yang kau cintai? Lelaki kampungan dan tidak terhormat’ kata ayahku. Aku menjawabnya naum pedang ayahku tetap saja terhunus ke tenggorokan Kotaro. Hingga aki mencabut pisau dari penggang Hidemitsu, menggenggamkannya di tangan Hidemitsu dan menusukan ke perutku sendiri. Sebelum mati aku bersumpah. Tak akan ke neraka tanpa Kotaro.”
“tunggu…apa kamu….Okuni ?” tanya Michiru
“b.ba.bagaimana kamu tahu?”
“kakek itu!” Katanya menggumam ,”apakah kau ingin bertemu Kotaro?”
“kau tahu dimna Kotaro?” tanyanya sambil menangis
“ikut aku!”
                Lalu mereka pergi ke rumah sakit. Namun sudah tidak ada. Hantu Okuni sangat sedih mengetahuinya. “coba aku tanyakan ke suster atau bagian pendataan” lalu Michiru berlarian kesana kemari mencoba sebisanya. Dalam tubuh Saori, hantu Okuni berpesan “dia seperti Kotaro. Kalian, hiduplah untuk cinta yang kalian perjuangkan. Jangan menjadi sepertiku” katanya pad Saori.
“aku dapat mari ikut aku” namun, Saori sudah sadar dan hantunya telah pergi.
“sayang, kayaknya kita deh yang harus mbawa kakek ketemu Okuni” kata Saori lemas
“oke deh..” lalu dengan bergegas ia menemui kakek. Saat tiba, kakek masih terbaring bersama pengasuhnya di sampingnya.
“maaf, apa kakek bernama Kotaro Hideki?” tanya Saori
“uhuk..uhuk..benar, kalian yang telah menolong kakek kan? Terimakasih”
“maaf kami lancang mengatakannya. Namun ini bukan mengada-ada kek…” kata Michiru
“katakan saja.uhuk, uhuk..” katanya sambil terbatuk-batuk
“nona Okuni ingin bertemu dengan anda”
lalu kek Kotaro bangkit dan menjadi semangat. Mengajak semua bergegas ke rumah itu. Dalam perjalanan pun senyumnya tak kunjung turun.
                Setelah sampai. Michiru memanggil hantu Okuni ,”nona Okuni. Aku bawakan kekasihmu”. Seperti kemarin. Rumah yang awalnya di penuhi aura duka. Seakan-akan aura itu berganti menjadi aura kerinduan. Dan Okuni, datang dari dalam rumah melayang-layang menghampiri Kotaro. Dan wujud rohnya, menjadi utuh seperti saat masih hidup. Rumah dan segalanya pun menjadi saat seperti masih di tempati.
“Okuni, sayangku..” kata kakek sambil memegang tangan Okuni
“Kotaro…aku merindukanmu selama 60 tahun. Tak ku sangka akhirnya kita bertemu kembali, namun…” raut mukanya menjadi sedih ,“s.s.sst…sebentar lagi…aku akan menyusulmu, sayangku. Tunggu saja” katanya sambil membelai wajah Okuni.
“Yuka, administrasi dan segalanya sudah aku lunasi. Jadi  siap-siapkan saja pemakaman buat ku ya.? Aku sudah bisa merasakannya.” Kata kakek sambil tersenyum
Yuka pun menangis, terharu ,”baiklah kakek, anda sudah seperti kakek saya sendiri”.
                “aku berpesan, kepada, kalian. Saori, dan kekasihnya. Jangan pernah lakukan hal bodoh eperti ku lagi.” Pesan Okuni
“karna aku tidak punya sanak keluarga aku akan suruh pengacaraku mengurus warisanku, yah..itung-itung buat biaya pernikahan kalian. Dan jangan menolah” pesan kakek.
hari itu, seakan hari yang penuh kebahagiaan. Walaupun di warnai hujan airmata haru.
                Seminggu kemuadian, mereka melayat di pemakaman kek Kotaro, yang di makamkan di samping makam nona Okuni. Tak banyak yang datang. Namun tetap terasa rama dan tentram.
“sayang…” panggil Saori
“apa?”
“janji yuk” sambil menyodorkan kelingkingnya. Lalu mereka berjanji, tak akan terpisahkan oleh apapun.
Setahunkemudian mereka menikah, menggunakan uang warisan Kotaro. Dan sisnya mereka pakai untuk masa depan mereka. Mereka merupakan pasangan yang paling bahagia, dan paling meriah pernikahannya.
“Cinta adalah senjata yang lebih kuat dari katana, namun lebih lembut dari sutera terbaik sekalipun”
-Kotaro Hideki-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Your Comments for This Blog